Clock By Blog Tips
Showing posts with label Anak. Show all posts
Showing posts with label Anak. Show all posts

Monday, December 26, 2011

Waspadalah.....Beberapa Jenis Mainan Mampu Rusak Pendengaran


Berdasarkan sebuah studi terbaru, para peneliti mengungkap bahwa beberapa jenis mainan ternyata mampu merusak pendengaran.

Seperti yang dikutip dari ScientificAmerican, para peneliti di UC Irvine mengatakan bahwa beberapa jenis mainan, apabila didekatkan pada telinga, ternyata mampu mencapai tingkat desibel yang sama kuatnya seperti kereta api bawah tanah atau gergaji mesin.

Hasil penelitian ini didapat dari penelitian kekerasan suara pada 10 game populer dari dekat sampai jarak 12 inci dari telinga.

Beberpa mainan seperti Road Rippers, T-Pain Mic dan Tonka Mightyrized Fire Engine, mampu menghasilkan tingkat desibel sampai 100 atau lebih.

Lalu beberapa mainan lainnya seperti Marvel Super Shield Captain America, Sesame Street Let's Rock Elmo, VTech Princess Magical Learning Wand, Toy Story Buzz Lightyear Cosmic Blaster dan the Green Lantern Colossal Cannon Blaster mampu menghasilkan tingkat desibel sebesar 90.

Suara bising di atas 85 mampu timbulkan kehilangan pendengaran, ungkap American Academy of Otolaryngology di situsnya.


Sumber : Inilah.com

Friday, December 16, 2011

Waspadalah.....Shampo Bayi Ternyata Berbahaya


Sebuah studi baru menyebutkan banwa penggunaan shampo bayi ternyata berbahaya karena dapat menimbulkan kanker. Benarkah?

Dalam sebuah penelitian yang dilakukan oleh Analyitical Science di Amerika pada 2009 menemukan 23 dari 28 produk khusus bayi mengandung formaldehyde, atau dikenal karsinogen -zat kimia yang dapat menyebabkan kanker..

Penelitian yang dilakukan dalam rangka 'The Campaign For Safe Cosmetik ini' ditemukan dalam sebuah produk shampoo khusus bayi yang beredar, termasuk di Indonesia, yang mengandung 200 ppm (0,02%) formaldehyde. Padahal, formaldehyde yang ditemukan secara alami dalam banyak makanan dan bahkan di tubuh manusia dengan tingkat sebesar 4 ppm.

"Kami tidak bermaksud membuat panik para orang tua, akan tetapi ingin memberitahu mereka bahwa produk-produk yang 'berlabel' berbahan lembut dan alami ternyata terkontaminasi karsinogen, yang sebenarnya sama sekali tidak perlu," ungkap Stacy Malkan, juru bicara Campaign for Safe Cosmetics.

Formaldehyde tidak hanya ditemukan dalam produk sampo, tetapi di beberapa produk-produk lain, seperti lotion, sabun cair, pasta gigi, tisu basah serta sun block untuk bayi.

Tak hanya itu, dalam produk sampo khusus bayi juga ditemukan quaternium-15. Kedua zat kimia ini dapat memicu ruam dan reaksi alergi bagi sebagian kulit orang yang sensitif. Sebelumnya, WHO juga telah mengidentifikasi adanya keterkaitan antara formaldehyde dan kanker darah, leukimia.

Menurut Environmental Protection Agency Amerika, kedua unsur kimia ini sebenarnya tidak ditambahkan secara sengaja dalam produk-produk tersebut. Kedua unsur kimia ini muncul disebabkan proses pembuatan produk.


Sumber : Inilah.com

Monday, September 5, 2011

Waspadalah.....Gangguan Tidur Dapat Pengaruhi Tumbuh Kembang Anak


Gangguan tidur ternyata bisa menyerang anak-anak. Gangguan yang dialami bukan hanya tidak bisa tidur, melainkan adanya masalah seperti sering mengalami mimpi buruk.

Sebaiknya kenali masalahnya, karena jika dibiarkan bisa mengganggu perkembangan anak. "Anak saya selalu rewel setiap malam, tidak bisa tidur, tapi enggak tahu penyebabnya," cerita Ira Handayani yang memiliki anak berusia enam bulan dengan gangguan tidur.

Masalah yang dialami Ira ternyata dialami beberapa ibu lainnya. Setiap orang mengalami waktu tidur yang berbeda-beda, dan berapa lama waktu tidur bergantung pada usia seseorang. Bayi misalnya. Seorang bayi yang baru lahir hingga usia tiga bulan akan memerlukan waktu tidur hampir seharian lamanya, sekitar 20 jam per hari.

Sementara itu, anak-anak akan memerlukan waktu tidur selama 8–14 jam, bergantung pada usia anak tersebut. Sama halnya dengan waktu tidur, gangguan tidur yang dialami orang pun berbeda-beda.
Saat anak tertidur dan terbangun pada malam hari, memang sudah menjadi hal yang biasa. Namun, yang harus diperhatikan adalah seperti apa gangguan tersebut menyerang.

Dokter ahli RPSGT (Registered Polysomnographic Technologist) dari Rumah Sakit Mitra Kemayoran, Dr Andreas A Prasaja atau yang akrab disapa Dr Ade, mengatakan bahwa gangguan tidur harus dipahami.

Artinya, gangguan tersebut bukan hanya tidak bisa tidur saja. "Banyak gangguan tidur lain yang justru menyebabkan anak mengantuk," ungkap dokter lulusan Universitas Atma Jaya pada 2002 ini.

Dr Ade menuturkan, gangguan tidur pada anak lainnya yakni Sindrom kematian mendadak pada bayi, yaitu sudden infant death syndrome (SIDS), ada pula sleep apnea, henti napas saat tidur, anak menolak untuk tidur, atau sleep walking (berjalan sambil tidur), night terrors sampai mengompol.

"Semua gangguan tidur disebabkan faktor yang berbeda-beda,"  ujar dokter yang mengambil pendidikan Sleep Medicine & Technology Sydney University di Australia ini. Dr Ade menjelaskan, SIDS tidak diketahui pasti penyebabnya, tetapi bisa dikenali tandanya, yakni turunnya tekanan darah hingga melambatnya denyut jantung bahkan bisa sampai berhenti.

Faktor-faktor risiko timbulnya gangguan jenis ini di antaranya adalah ibu yang merokok, bayi prematur, riwayat kelainan jantung pada keluarga, dan tidur telungkup dengan mulut-hidung tertutup.

"Gangguan tidur jenis ini bisa dicegah dengan menghindari rokok selama kehamilan dan setelah melahirkan lalu membiasakan bayi untuk tidur telentang. Sebaiknya jangan biarkan selimut, boneka, atau bantal menghalangi hidung dan mulut bayi saat tidur," tandas dokter pertama di Indonesia yang mengambil bidang ini.

Dikatakan Dr ade, anak usia sekolah sering kali menolak untuk tidur karena ingin menonton film di televisi, permainan, atau bahkan pekerjaan rumah (PR) yang belum selesai. Sementara itu, anak balita lebih sering menolak tidur karena masih ingin bermain.

"Jadi, dengan kebiasaan tidur yang baik, anak-anak akan terbiasa untuk mengenali waktu untuk tidur," sarannya. Ada pula gangguan tidur sleep walking, yaitu ngelindur atau mengigau bahkan berjalan dalam tidur. Dr Ade mengatakan bahwa sleep walking terjadi saat anak akan tidur.

"Walaupun penyebab pasti belum diketahui, kita tahu bahwa sleep walking bisa dipicu oleh excitement sebelum tidur dan kondisi kurang tidur," tutur dokter yang menerbitkan buku berjudul "Ayo Bangun! Dengan Bugar karena Tidur yang Benar".

Sleep walking biasanya terjadi dalam dua jam awal tidur, saat utang tidur masih menumpuk tinggi. Ini sebabnya penanganan utama sleep walking adalah dengan mencukupi kebutuhan tidur anak.

Selain itu, ada pula gangguan tidur night terrors dan pavor nocturnus, merupakan gangguan tidur yang menakutkan dam sering menyerang anak usia prasekolah. Saat tidur, anak dapat tiba-tiba menangis dengan histeris. Terkadang dia sampai terduduk dan memfokuskan pandangan pada satu sudut.

Salah satu ciri khas gangguan tersebut adalah si anak tidak merespons belaian orangtua untuk menenangkan, malah menangisnya bertambah keras. Setelah beberapa waktu, dia akan terdiam dan kembali tidur, atau terbangun dengan pandangan bingung karena tidak tahu apa yang terjadi.

"Kondisi ini akan berkurang dan akhirnya akan hilang sendiri. Yang terpenting bagi orangtua, adalah untuk menjaga anak jangan sampai menyakiti dirinya sendiri, dan menenangkannya jika ia terbangun. Pertanyaan-pertanyaan tentang apa yang baru terjadi, hanya akan membingungkannya," jelasnya.

Selanjutnya, gangguan tidur epilepsi, merupakan serangan epilepsi yang memang terjadi pada saat tidur. Anak akan mengalami serangan kejang saat tidur. Pengobatan yang dilakukan sama layaknya penanganan epilepsi. Sementara itu,  sleepapnea terjadi karena penyempitan saluran napas di bagian atas. Terhadap anak, biasanya hal ini disebabkan pembengkakan amandel yang dialami anak.
 
 
 
Sumber : Suara Media

Wednesday, August 3, 2011

Waspadalah.....Tanda-tanda Bayi Harus Dibawa ke Dokter


Setiap orangtua selalu berusaha menjaga bayinya agar sehat, namun kadang kondisi demam dan infeksi tidak dapat dihindarkan. Tidak perlu panik ketika bayi Anda sakit, pahamilah kapan bayi sakit perlu diperiksakan ke dokter.

Saat bayi menangis, bahkan orangtua yang memiliki banyak pengalaman pun tetap sulit membedakan kerewelan normal atau bayi menangis karena sakit. Inilah saatnya untuk menghubungi dokter untuk mengetahui apakah bayi memerlukan penangan darurat atau tidak seperti yang dikutip dari MayoClinic, Rabu (3/8/2011).

Jika mengarah pada gejala penyakit yang memerlukan penanganan serius, setidaknya tidak terlambat untuk mendapatkan penanganan dari dokter. Tanda dan gejala yang perlu diperhatikan pada bayi, antara lain:

1. Penurunan nafsu makan
Jika bayi mengalami penurunan nafsu makan selama beberapa hari dan semakin parah, maka periksakanlah ke dokter.

2. Perubahan suasana hati
Jika bayi lesu, selama beberapa hari dan semakin memburuk, maka periksakanlah ke dokter.

3. Kemerahan pada daerah pusar dan daerah kemaluan
Jika pada daerah pusar dan kemaluan bayi kemerahan atau bahkan mengeluarkan cairan atau berdarah, segera periksakan ke dokter.

4. Demam
Demam ringan pada bayi memang sering terjadi dan biasanya tidak berbahaya, namun sebaiknya suhu tubuh bayi tetap dipantau. Jika bayi Anda lebih muda dari usia 3 bulan, hubungi dokter untuk demam apapun. Jika bayi Anda usia 3 bulan atau lebih dan memiliki suhu mulut lebih rendah dari 102 F (38,9 C), kondisikan bayi untuk banyak istirahat dan banyak asupan cairan.

Hubungi dokter jika bayi Anda tampak sangat mudah marah, lesu atau tidak nyaman. Jika bayi Anda memiliki suhu mulut dari 102 F (38,9 C) atau lebih tinggi, berikan bayi Anda asetaminofen (Tylenol atau yang lain). Hubungi dokter jika demam tidak turun atau berlangsung lebih lama dari satu hari.

5. Diare
Jika feses (kotoran) bayi sangat encer atau berair, maka periksakanlah ke dokter.

6. Muntah
Sesekali muntah masih normal, tetapi jika bayi sampai memuntahkan sebagian besar pemberian makanan dan minuman atau muntah banyak setelah menyusui, segera periksakanlah ke dokter.

7. Dehidrasi
Jika bayi tidak mengompol selama 6 jam atau bayi menangis tanpa mengeluarkan air mata dan kondisi rongga mulutnya kering (seperti tidak ada air minum), segera periksakanlah ke dokter.

8. Sembelit
Jika bayi Anda buang air besar lebih sedikit dari biasanya selama beberapa hari, maka periksakan ke dokter.

9. Pilek
Jika bayi pilek hingga mengganggu pernapasannya dan berlangsung lebih dari dua minggu, atau disertai dengan batuk parah, maka segera periksakan ke dokter.

10. Telinga bermasalah
Jika bayi tidak memiliki respon normal terhadap suara atau memiliki cairan mengalir dari telinganya, segera periksakanlah ke dokter.

11. Ruam
Jika ruam mencakup area yang luas, terutama jika ruam disertai dengan demam, maka segera periksakanlah ke dokter.

12. Keluar lendir dari mata
Jika satu atau kedua mata kemerahan dan berlendir, segera periksakanlah ke dokter.

Tidak ada salahnya untuk selalu membawa bayi Anda check up ke dokter, saat check up setidaknya akan diketahui kondisi kesehatan bayi dan saat ada kelainan akan dapat ditangani sedini mungkin.



Sumber : detik

Monday, July 4, 2011

Waspadalah.....Konsumsi Garam Pada Anak-anak Mulai Mengkhawatirkan


Hampir semua jenis makanan yang dikonsumsi anak mengandung garam di dalamnya. Jika tidak dibatasi, konsumsi garam yang berlebihan dikhawatirkan akan memicu berbagai masalah jantung dan pembuluh darah saat anak-anak itu tumbuh dewasa.

Sebuah lembaga pemerhati kesehatan jantung di Inggris, Consensus Action on Salt and Health memperkirakan rata-rata anak mengonsumsi garam 50 persen lebih banyak dari batas maksimal. Beberapa bahkan mengonsumsinya 2 kali lipat dari batas yang dianjurkan.

Diperkriakan, sebagian anak-anak di Inggris mengonsumsi garam sebanyak 9,6 gram/hari sementara batas yang dianjurkan untuk usia 7-10 tahun hanya 5 gram/hari. Jumlah ini mencapai 92 persen atau nyaris 2 kali lipat dari asupan yang maish bisa dikategorikan sehat.

Anak-anak tersebut mengonsumsi garam dalam makanan sehari-harinya. Dalam menu sarapan misalnya, 30 gram sereal dicampur dengan 125 gram susu sudah memberikan asupan garam sebanyak 0,82 gram. Ditambah sepotong kue muffin, asupan garam bertambah 0,6 gram.

Kemudian saat makan siang, sandwich atau roti isi daging dan keju memberikan tambahan garam sebanyak 2,2 gram, keripik kentang dan segala macamnya menambah asupan garam sebanyak 1,3 gram, sementara cemilan biskuit menambah garam sebanyak 0,2 gram.

Saat makan malam, kroket kentang mengandung garam sebanyak 1 gram, kacang panggang 1,58 gram, ayam 1,4 gram dan saus kecap 0,5 gram. Total dalam sehari, anak-anak bisa mengonsumsi hingga 9,6 gram garam atau hampir 2 kali lipat dari anjuran pola makan yang sehat.

Kelebihan asupan garam itu dikhawatirkan akan memicu berbagai masalah kardiovaskular, yang dalam jangka panjang akan meningkatkan risiko serangan jantung. Di seluruh dunia, serangan jantung masih tercatat sebagai penyebab kematian paling besar.

"Garam harus dibatasi karena bisa meningkatkan tekanan darah. Makin tinggi tekanan darah waktu kecil, risiko untuk mengalami masalah kardiovaskular saat dewasa makin besar," ungkap Katharine Jenner dari Consensus Action on Salt and Health seperti dikutip dari Dailymail, Minggu (3/7/2011).

Batas maksimal konsumsi garam yang dianjurkan untuk anak-anak menurut Consensus Action on Salt and Health adalah sebagai berikut:




Usia Maksimal
0-6 bulan di bawah 1 gram
6-12 bulan 1 gram
1-3 tahun 2 gram
4-6 tahun 3 gram
7-10 tahun 5 gram
11 tahun ke atas 6 gram



detik

Tuesday, May 24, 2011

Waspadalah.....Anak-anak Sekarang Makin Lemah?


Sebuah penelitian di Inggris mengindikasikan, anak-anak zaman sekarang cenderung lebih "lemah" dan kesulitan melakukan tugas-tugas fisik yang sebenarnya mudah bagi generasi mereka sebelumnya.

Riset para ahli di Essex University menunjukkan, anak-anak usia 10 tahun pada era sekarang memiliki otot yang lebih lemah ketimbang anak-anak yang lahir satu dekade sebelumnya.

Peneliti memperkirakan, hal ini kemungkinan besar disebabkan perubahan gaya hidup, di mana anak zaman sekarang lebih senang beraktivitas di dalam ruangan, seperti bermain komputer atau games. Sedangkan anak-anak pada masa sebelumnya lebih banyak bermain di ruang terbuka dengan beragam aktivitas fisik, seperti memanjat pohon, naik tangga, atau bergelantungan pada batang besi di taman.

Seperti dilaporkan dalam jurnal Acta Paediatrica, anak-anak sekarang cenderung kesulitan melakukan gerakan seperti bergelantungan di tangga dinding ataupun sit-up dalam hitungan yang banyak. Selain mengalami penurunan dalam hal kekuatan, anak-anak sekarang pun kesulitan dalam mencengkeram benda dengan baik.

Riset yang digagas Dr Gavin Sandercock, pakar kebugaran anak dari Essex University, ini dilakukan dengan cara membandingkan hasil tes kemampuan dua kelompok anak pada era yang berbeda. Kelompok pertama adalah mereka yang berusia 10 tahun pada 2008 dan kelompok kedua adalah anak berusia 10 tahun pada 1998.
Penelitian menunjukkan, kemampuan anak melakukan sit-up mengalami penurunan sebanyak 27,1 persen. Kekuatan otot tangan juga menurun 26 persen dan daya cengkeram anak menurun 7 persen.

Selain itu, jika pada 1998 satu di antara 20 anak tidak mampu menahan bobot tubuhnya saat bergelantungan di tangga dinding, selang satu dekade kemudian tercatat ada satu dari 10 anak tak mampu melakukannya.

"Ini mungkin disebabkan adanya perubahan pola aktivitas di antara anak-anak Inggris berusia 10 tahun. Misalnya, kurang beraktivitas seperti memanjat pohon atau naik tali-temali untuk bersenang-senang. Secara khusus, aktivitas seperti ini dapat meningkatkan kekuatan anak-anak dan membuat mereka mampu mengangkat dan menahan bobot mereka sendiri. Fakta bahwa 10 persen anak gagal dalam tes tangga dinding dan 10 persen lainnya menolak melakukannya sungguh mengejutkan," kata Dr Sandercock.

Penelitian juga menemukan bahwa dua kelompok anak ini memiliki massa tubuh yang sama. Hal ini berarti bahwa anak usia 10 tahun pada zaman sekarang sepertinya memiliki lebih banyak lemak dan massa otot yang lebih rendah dibanding generasi sebelumnya.






Kompas

Tuesday, April 19, 2011

Waspadalah.....Bahaya Anemia pada Anak


Kekurangan zat besi bisa berakibat fatal. Bagi ibu hamil, kondisi ini tak hanya memicu anemia yang mengganggu aktivitas, tapi juga akan menurunkan kekurangan zat besi pada janin yang berdampak buruk pada tumbuh kembangnya.

Anemia adalah turunnya kadar hemoglobin, yaitu zat dalam sel darah merah yang mengantarkan oksigen ke seluruh tubuh.

Setiap kelompok usia memiliki nilai normal hemoglobin dalam tubuh. Menurut WHO, anak usia kurang dari enam tahun memiliki batas normal 11g/dL, anak usia lebih dari enam tahun 12g/dL, wanita 12g/dL, wanita hamil 11g/dL, dan pria 13g/dL.

"Dikatakan anemia jika kadar besi dalam darah berkurang. Sedangkan jika kadar besi hanya berkurang di bagian otak, otot, dan cairan tubuh lain maka dikata kekurangan besi atau Anemia Defisiensi Besi (ADB)," ujar Soedjatmiko, Sp.A(K), Msi, dokter spesialis anak dan konsultan tumbuh kembang-pediatri sosial, dalam sebuah seminar di Gedung Prodia, Jakarta.

Menurutnya, pengukuran zat besi saat ini tidak dapat hanya pemeriksaan dalam darah. Pengukuran besi dalam anggota tubuh yang lain dapat memberikan solusi pencegahan anemia.

Berdasarkan data WHO, Survey Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) dilakukan di Indonesia pada 2001. Hasilnya, 47 persen balita dan 40,1 persen wanita mengidap kekurangan zat besi. Tingginya angka ini menunjukkan bahwa Indonesia masih menderita gizi buruk dan gizi kurang.

Bagi orang dewasa, kekurangan besi dapat menyebabkan lemah, letih, dan lesu. Kekurangan besi yang menahun dapat mengakibatkan perubahan perilaku seperti mudah marah, bahkan gangguan perilaku. Sedangkan kekurangan besi berakibat fatal bagi anak karena dapat mengganggu tumbuh kembang otak.

Prof dr Djajadiman Gatot dari Divisi Hematologi Onkologi, Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI/RSCM, mengatakan, kekurangan besi pada anak dapat disebabkan oleh kurangnya produksi hemoglobin, kegagalan sumsum tulang, gangguan pematangan sel darah merah, dan gangguan pada usus seperti cacingan.

Dampak kekurangan besi pada anak membuat melambatnya pertumbuhan percabangan sel otak (dendrit), sehingga hubungan antar sel otak kurang kompleks dan proses informasi melambat, juga terganggunya proses myelinisasi (selubung sel saraf) sehingga memicu gangguan penglihatan, pendengaran, dan perilaku.

Terjadi pula gangguan metabolisme di pusat kendali emosi dan pusat kendali kognitif. Menurunkan aktivitas enzim triptofan dan tirosin hidroksilase yang mengakibatkan gangguan produksi serotonin dan dopamin. Ini membuat anak tidak mampu mengendalikan diri dan perasaan, tidak mampu memusatkan perhatian, mengikuti pembelajaran dengan baik, dan gangguan perilaku.

Untuk dapat mengatasinya, wanita hamil dan menyusui dianjurkan untuk mengonsumsi suplemen penambah besi. Anak berusia 6-24 bulan pun dianjurkan untuk mengonsumsi suplemen besi karena usia dua tahun pertama bagi anak adalah masa penting bagi pertumbuhan otaknya.

Anak yang memperoleh nutrisi lengkap, kasih sayang, dan stimulus yang baik dari orang tua maka proses informasi dapat cepat dilakukan, memiliki perilaku positif, tidak rewel, interaksi sosial yang baik, mudah ditenangkan, dan cepat tumbuh. 





• VIVAnews 

Thursday, April 7, 2011

Waspadalah.....Ini Akibatnya Jika Anak Cepat Puber


Sering nonton sinetron, banyak makan makanan junk food, faktor genetik atau beberapa penyakit bisa membuat anak mengalami pubertas dini. Ini membuat anak tumbuh dewasa sebelum usianya. Apa bahayanya bila anak pubertas dini?

Secara umum, tanda awal pubertas yang normal mulai muncul pada anak perempuan pada usia 8-13 tahun, sedangkan pada anak laki-laki pada usia 9-14 tahun.

Bila tanda seksual sekunder pada anak perempuan muncul sebelum usia 8 tahun dan anak laki-laki sebelum usia 9 tahun, hal itu disebut pubertas prekoks atau pubertas dini, seperti dikutip dari tulisan dr Aditya Suryansyah Semendawai, Sp.A, dalam buku yang berjudul 'Panik Saat Puber? Say No!!!' terbitan Dian Rakyat.

Pada anak perempuan, pubertas dini ditandai dengan timbulnya pembesaran payudara, pertumbuhan tinggi badan yang cepat dibanding anak seumurnya dan tumbuh rambut kemaluan lebih awal. Sementara itu, pada anak laki-laki diawali dengan pembesaran buah zakar (testis) kemudian diikuti pembesaran penis.

"Perubahan hormon dalam tubuh pasti akan mempengaruhi struktur tubuh. Jadi kalau anak pubertas dini, pasti akan ada dampaknya," jelas dr Aditya Suryansyah Semendawai, Sp.A, dalam acara Talkshow Media dan Peluncuran Buku 'Panik Saat Puber? Say No!!!' di Magenta Cafe, Pacific Place, Jakarta, Rabu (6/4/2011)

Seseorang menjadi penyandang pubertas prekoks tergantung dari berbagai faktor, seperti faktor genetik atau penyakit tertentu yang dapat merangsang produksi hormon gonad, seperti tumor ovarium atau tumor testis.

Menurut dr Aditya, pubertas dini pada anak perempuan sering disebabkan karena gangguan hormon di otak yaitu di hipotalamus dan hipofise, sedangkan pada anak laki-laki karena tumor.

"Anak yang sering nonton sinetron atau sering makan makanan yang mengandung hormon seperti junk food

Dalam bukunya dr Aditya menjelaskan, kalau pubertas timbul lebih awal maka tidak hanya ditandai dengan pertumbuhan tubuh yang besar dan menjadi lebih cepat tinggi, tapi tulang juga akan lebih cepat menutup.

Jadi, bila seorang remaja mengalami pubertas dini, awalnya pertumbuhan badannya akan lebih tinggi, tetapi karena tulang menutup lebih cepat maka menyebabkan tubuhnya lebih pendek dari teman lainnya yang mengalami pubertas normal.

Di samping itu, bila terlalu cepat mengalami pubertas maka hormonnya akan tinggi dan itu akan menjadikan anak 'dewasa lebih cepat', padahal mentalnya belum siap menjadi dewasa.

Pada akhirnya, anak tidak dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan. Hal yang ditakutkan yaitu bila ia menyenangi lawan jenis yang dapat menimbulkan peristiwa yang tidak diharapkan akibat dorongan hormonalnya tersebut.

"Anak yang pubertas dini akan menjadi salah tingkah, tidak bisa menempatkan diri, dandanan menjadi dewasa, mudah cemas, peragu dan menjadi tidak percaya diri. Ini karena mereka belum siap dan ketika terjadi pubertas dini mereka tidak menyadarinya," jelas dra Louise Maspaitella M.Psi, Psikolog Klinis Keluarga dari RSAB Harapan Kita.

Tidak hanya secara psikologis dan pertumbuhan badan, dr Aditya juga mengatakan bahwa pubertas dini dapat meningkatkan risiko kanker dan tumor di kemudian hari.

"Pubertas dini artinya hormonnya akan semakin cepat. Ini bisa mempengaruhi struktur tubuh dan meningkatkan risiko tumor. Pada perempuan misalnya bisa memicu kanker payudara. Pada laki-laki juga bisa meningkatkan risiko tumor testis dan tumor prostat," tutur dr Aditya yang mendalami masalah hormon pertumbuhan.

Pubertas dini meningkatkan risiko kanker dan tumor karena tingkat hormon estrogen, progesteron (pada perempuan) dan testosteron (pada laki-laki) dapat memicu beberapa tumor yang bisa menjadi ganas.

Bagaimana mengatasinya?

Sebelum mengobati atau menghentikan pubertas dini, harus ditentukan terlebih dahulu penyebabnya.

Pubertas prekoks atau pubertas dini berdasarkan penyebabnya dibagi menjadi dua, yaitu pubertas prekoks sentral dan perifer.

Pada pubertas prekoks sentral maka akan melibatkan semua hormon di otak. Sementara itu, pada pubertas prekoks perifer, keterlibatan hanya di tempat tertentu, biasanya karena tumor.

Dalam bukunya, dr Aditya menjelaskan, bila penyebabnya sentral maka diberikan hormon antagonis yang bertujuan untuk menghambat pubertas. Tetapi, bila penyebabnya perifer maka tumornya harus diangkat atau diobati apa yang menjadi penyebabnya.
juga bisa mengalami pubertas dini," lanjur dr Aditya yang merupakan spesialis anak di RSAB Harapan Kita.





detik



Monday, March 28, 2011

Waspadalah.....Bila Anak-anak Kecanduan Internet


Orang tua harus mewaspadai kemungkinan anaknya yang kecanduan internet karena dapat berpengaruh terhadap perkembangan psikologi mereka, kata Ketua Pengurus Pusat Persaudaraan Muslimah (Salimah), Nani Handayani. 

"Bila anak sudah kecanduan internet maka orang tua harus hati-hati menyikapinya," katanya di Magelang, Ahad. Ia mengatakan hal tersebut saat tablig akbar memperingati Hari Jadi Ke-1.105 Kota Magelang yang diselenggarakan PD Salimah Kota Magelang dengan tema "Menyelamatkan Keluarga dari Efek Negatif Dunia Maya".

Kecanduan internet, katanya, antara lain bisa menyebabkan anak malas, kurang konsentrasi belajar, dan tidak mau berdialog. Suatu riset, katanya, menunjukkan bahwa anak-anak kencanduan internet mencapai 76 persen. Mereka minimal membuka internet antara dua hingga tiga jam per hari.

"Namun banyak anak yang merasa tidak cukup membuka internet selama dua hingga tiga jam saja. Apalagi warnet buka 24 jam sudah menjamur di mana-mana sehingga anak-anak lebih mudah mengakses internet," katanya.

Ia mengemukakan, sudah saatnya ibu rumah tangga bisa menggunakan internet agar mereka bisa mengetahui aktivitas anak-anaknya saat berinternet. "Mustahil kalau anak sekarang tidak bisa membuka internet karena di sekolah juga diajarkan hal itu," katanya.

Ia mengatakan, sebagian besar anak memiliki akun jejaring sosial antara lain facebook dan twiter. Banyak hal, katanya, bisa diperoleh dari berbagai fitur tersebut antara lain berteman dengan siapa saja dan membuka bacaan apa saja termasuk gambar porno.

"Sulit bagi orang tua untuk membendung anak membuka situs porno," katanya. Ia mengatakan, di Indonesia terdapat sekitar 20 ribu situs porno yang mudah diakses. Upaya memblokir berbagai situs porno bukan hal mudah.

Selain itu, katanya, jangan memasang komputer di kamar pribadi masing-masing anak. "Lebih baik komputer diletakkan di ruang keluarga sehingga apa yang dibuka oleh anak, maka semua anggota keluarga akan mengetahui," katanya. Ia mengemukakan perlunya orang tua dengan anak-anak membuat kesepakatan menyangkut berapa lama anak boleh membuka internet.




Republika

Friday, March 18, 2011

Waspadalah.....Efek Buruk Masa Kecil Tak Bahagia


Masa kecil yang tidak bahagia berpotensi memicu trauma yang dapat mengganggu kesehatan mental saat dewasa. Banyak yang tak sadar bahwa kebahagiaan masa kecil memengaruhi tingkat kebahagiaan saat dewasa.

Sebuah penelitian pun dilakukan dengan menganalisis hubungan antara kehidupan bahagia di saat dewasa dan kebahagiaan masa kecil. Penelitian melihat tingkat kebahagiaan, pertemanan, dan energi 2776 siswa dengan umur rata-rata 13 sampai 15 tahun.

Kelompok penilaian pertama adalah anak yang memiliki popularitas di antara anak lain. Lalu, kelompok anak yang sangat senang dan puas, kelompok anak yang mudah bergaul, dan kelompok anak yang sangat energik, tidak kenal lelah. Setiap siswa mendapat poin positif untuk setiap kelompok yang termasuk penilaian.

Penelitian juga memerhatikan masalah yang terjadi pada anak-anak muridnya seperti gelisah, sering melamun, tidak taat pada peraturan, dan sering berbohong. Masalah emosi seperti kecemasan, ketakutan akan suatu hal, sifat pemalu, menghindari berbagai macam perhatian pun menjadi penilaian.

Hasil penilaian kemudian dihubungkan dengan kesehatan mental, pengalaman kerja, kehidupan percintaan, dan aktivitas sosial beberapa dekade setelahnya.

Hasilnya, remaja yang mendapatkan penilaian positif di masa kecil memiliki kehidupan yang lebih bahagia dibandingkan mereka yang tidak mendapatkan nilai positif. Kebahagiaan ini termasuk dengan kepuasan dalam bekerja, terjalinnya komunikasi dengan keluarga dan teman, dan banyaknya aktivitas sosial.

Remaja yang bahagia pun jauh dari kelainan jiwa. Telah tercatat 60 persen dari para responden memiliki kehidupan yang normal dibanding mereka yang tidak mendapatkan penilaian positif.

Namun, penelitian ini juga menemukan bahwa orang dewasa yang bahagia pada masa remaja lebih berisiko mengalami perceraian dalam kehidupan percintaannya. Satu alasan yang mungkin terjadi adalah orang-orang yang bahagia memiliki kepercayaan diri yang lebih tinggi dan memungkinkan mereka meninggalkan kehidupan pernikahan yang tidak bahagia.

Selain itu, penelitian ini juga mendukung pandangan bahwa walaupun dalam kesulitan ekonomi, para orangtua harus memberikan prioritas untuk mendukung kebahagiaan anak-anak mereka sehingga mereka memiliki permulaan kehidupan yang terbaik. 






• VIVAnews 

Tuesday, March 8, 2011

Waspadalah.....Jangan Biarkan Anak-anak Berenang Terlalu Lama


Anak-anak paling senang berlama-lama di kolam renang. Anak baru ke luar dari kolam renang setelah bibirnya biru, mukanya pucat dan kedinginan akibat berjam-jam di dalam air. Tapi sebaiknya jangan biarkan anak-anak berenang terlalu lama. Mengapa?

Berenang sangat baik untuk perkembangan fisik dan otak anak-anak. Berenang merupakan salah satu olahraga yang baik, karena melibatkan banyak otot dan organ tubuh. Tapi bila terlalu lama berendam di dalam air yang dingin juga bisa memicu berbagai penyakit.

Air yang digunakan untuk berenang biasanya akan lebih dingin dibandingkan udara di sekitar. Merendam tubuh di dalam air yang dingin akan menurunkan suhu tubuh seseorang, sehingga saat keluar dari kolam renang atau ke udara yang bersuhu lebih panas, tubuh akan berusaha untuk menormalkannya.

Bila dilakukan pada waktu yang cukup atau tidak terlalu lama sekitar 1-2 jam, reaksi tersebut bisa membuat anak merasa lapar setelah selesai berenang.

Tapi bila anak dibiarkan berlama-lama berendam di air lebih dari 2 jam, bisa menyebabkannya kedinginan dan memicu peningkatan denyut jantung tiba-tiba (tachycardia), seperti dilansir heart-problems.net, Senin (7/3/2011).

Berenang atau berendam pada suhu air yang lebih rendah dari suhu tubuh untuk waktu yang lama dapat membuat pembuluh darah arteri berkontraksi dan perluasan vena kecil, yang dapat menyebabkan darah berhenti di pembuluh darah subcutaneous.

Dengan kondisi tersebut, denyut jantung dan aliran darah akan terganggu dan menyebabkan defisit (kekurangan) oksigen yang dapat menyebabkan hal yang serius.

Selain itu, berenang terlalu lama pada air yang dingin dapat meningkatkan beban pada jantung, yang menyebabkan jantung berdetak lebih cepat secara tiba-tiba, yang pada orang tertentu bisa memicu penyakit jantung.

Oleh karena itu, sebaiknya jangan biarkan anak-anak atau orang dengan kondisi jantung lemah berlama-lama berendam dalam air yang dingin. Jika ada gejala tidak nyaman yang dirasakan, segeralah keluar dari air untuk mencegah kedinginan dan terjadinya peningkatan denyut jantung secara tiba-tiba.




detik

Friday, February 11, 2011

Waspadalah.....Hati-hati Beri Antibiotik pada Anak yang Belum Tumbuh Gigi


Sebaiknya hati-hati memberi antibiotik pada anak yang belum tumbuh gigi. Alih-alih membuat anak sehat, antibiotik justru bisa membuat gigi anak menjadi kuning secara permanen dan bahkan tak bisa diputihkan dengan bantuan bleaching (memutihkan gigi) sekalipun.

"Gigi kuning itu bisa karena bermacam-macam, yaitu ada faktor ekstrinsik, intrinsik dan usia," jelas drg Prita Widianti, dokter gigi dari RS Metropolitan Medical Centre, dalam acara konferensi pers 'Make Up Bagi Gigi Anda' di Plaza Senayan, Jakarta, Kamis (10/2/2011).

Kalau faktor ekstrinsik, lanjut drg Prita, biasanya dari makanan dan minuman, misalnya makanan yang mengandung kunyit, teh, kopi, soda yang dikonsumsi dalam jangka panjang dan terus menerus. Kondisi gigi kuning seperti ini bisa diputihkan dengan bleaching.

"Sedangkan kalau faktor instrinsik itu dari dalam. Pernah lihat orang yang giginya coklat belang-belang atau abu-abu? Itu biasanya karena antibiotik," jelas drg Prita yang juga cosmetic dentofacial care.

Menurut drg Prita, antibiotik tertentu yang diminum berlebihan oleh anak usia 1-2 tahun, saat gigi belum mulai tumbuh, dapat menyebabkan giginya tumbuh kuning atau coklat secara permanen yang tidak bisa diputihkan kembali dengan bleaching sistem apapun.

"Jadi pada saat gigi belum tumbuh, antibiotik mempengaruhi sistem benihnya. Nah, waktu tumbuh itu jadi ada noda. Kalau kondisinya seperti ini nggak bisa di whitening, sistem apapun nggak bisa," lanjut drg Prita.

Jalan satu-satunya untuk memutihkan gigi yang kuning permanen ini adalah dengan pelapisan vinir atau porselen pada gigi yang bersifat permanen.

"Itu harus pakai pelapis satu-satu, karena pakai whitening dari dokter pun nggak bisa. Dengan pasta gigi apapun juga nggak bisa. Itu udah dari dalam," tegas drg Prita.

drg Prita menjelaskan, perawatan gigi yang bisa membantu orang dengan kondisi kuning permanen hanyalah pemutihan gigi secara permanen, yaitu dengan melapisi gigi dengan lapisan tertentu atau ditambal dengan vinir atau porselen.

Berbeda dengan proses bleaching yang tak bisa memilih tingkat kecerahan gigi, untuk pelapisan gigi dengan vinir atau porselen, pasien bisa memilih sendiri derajat keputihan gigi yang diinginkan. Putihnya pun bersifat permanen karena berasal dari lapisan tambahan.

Dan untuk perawatan yang harus melapisi gigi satu persatu, drg Prita mengatakan biayanya mencapai 5-10 juta per gigi.




detik

Wednesday, February 2, 2011

Waspadalah.....Operasi Amandel Bikin Anak Tambah Gemuk


Jika berniat membawa anak ke rumah sakit untuk operasi amandel, maka bersiaplah untuk menghadapi efek sampingnya. Sebagian anak mengalami peningkatan berat badan setelah operasi pengangkatan tonsil atau yang sering disebut amandel.

Operasi pengangkatan tonsil umumnya dilakukan untuk mengatasi tonsilitis kronis alias radang amandel. Radang di bagian ini biasanya membuat anak mengalami gejala-gejala seperti susah menelan (dysphagia) dan sakit saat menelan (odynophagia).

Gejala-gejala ini tentu saja mempengaruhi pola makan, sehingga sedikit banyak akan mempengaruhi pertumbuhan tinggi badan dan terutama berat badannya. Jika dibiarkan, anak-anak akan semakin kurus dan lama-lama menjadi kurang gizi. 

Setelah tonsil atau amandel yang mengalami radang itu diangkat melalui operasi yang dinamakan tonsillectomy, anak-anak tidak lagi mengalami kesulitan atau rasa sakit saat menelan makanan. Karenanya, pola makan akan kembali normal dan berat badan akan meningkat.


Peningkatan berat badan yang dialami anak-anak sesudah tonsillectomy cukup signifikan. Sebuah studi yang mengkaji 3 penelitian tentang tonsillectomy membuktikan bahwa peningkatan berat badan maupun indeks massa tubuh (IMT) setelah operasi mencapai 46-100 persen.

Pada penelitian pertama yang dilakukan 127 anak penderita tonsilitis, pengangkatan tonsil atau amandel membuat IMT anak meningkat antara 5,5-8,2 persen. Di Amerika, angka ini justru mengkhawatirkan mengingat 33 persen anak di negara ini sudah mengalami overweight (kelebihan berat badan) dan 17 persen lainnya obesitas.

"Meski tidak mengungkap adanya hubungan secara langsung, peningkatan berat badan setelah operasi amandel dikhawatirkan akan memicu peningkatan yang dramatis terkait anak yang menderita obesitas," ungkap Anita Jeyakumar, MD yang memimpin penelitian tersebut, dikutip dari WebMD, Rabu (2/2/2011).

Penelitian berikutnya meneliti 419 anak, dengan peningkatan berat badan setelah operasi cukup bervariasi antara 46-100 persen. Penelitian berikutnya mengungkap 249 anak yang mengalami pengangkatan tonsil berat badannya meningkat 50-75 persen.

Penelitian yang dikerjakan oleh tim ahli dari Saint Louis University ini dipublikasikan dalam jurnal Studi Otolaryngology: Head and Neck Surgery edisi bulan Februari.


detik

Monday, January 31, 2011

Waspadalah.....Tidur Larut Malam Saat Akhir Pekan Bikin Anak Cepat Gemuk


Saat akhir pekan anak-anak biasanya tidur lebih malam. Tapi sebaiknya jangan biarkan anak tidur larut malam meski di akhir pekan, karena bisa membuatnya obesitas dan memicu penyakit berbahaya di kemudian hari.

Laporan terbaru Pediatrics mengatakan bahwa anak-anak yang tidur larut malam saat akhir pekan, memiliki 4 kali lipat risiko mengalami obesitas (kegemukan) dibandingkan dengan anak yang tidur cukup.

Penelitian yang dilakukan oleh University of Chicago ini memantau 308 anak usia 4 sampai 10 tahun, dengan mengukur body mass index (BMI) dan memeriksa pola tidur menggunakan sensor gerakan pergelangan tangan.

Hasilnya, tidak ada perbedaan waktu tidur yang signifikan antara anak yang gemuk dan ramping pada hari sekolah (week day). Partisipan anak rata-rata tidur delapan jam per malam pada hari biasa.

Namun, peneliti menemukan bahwa di akhir pekan anak-anak obesitas memiliki waktu tidur lebih pendek dan lebih pola tidur yang tidak teratur.

Peneliti mengatakan anak yang kurang tidur di akhir pekan memiliki kesehatan yang buruk, seperti kadar insulin lebih tinggi (dapat menyebabkan diabetes tipe II), kadar kolesterol jahat LDL dan protein C-reaktif yang tinggi, yang akhirnya dapat dikaitkan dengan penyakit jantung di kemudian hari.

"Obesitas anak dapat terjadi karena kurangnya tidur di akhir pekan dan kombinasi durasi tidur yang lebih singkat pada hari biasa sehingga dikaitkan dengan hasil metabolik yang merugikan," jelas penulis studi, seperti dilansir Telegraph, Minggu (30/1/2011).

Kurang tidur mengakibatkan peningkatan produksi ghrelin, yakni hormon yang diproduksi di perut dan berfungsi mengurangi pelepasan hormon yang disebut leptin di dalam sel-sel lemak.

Ghrelin yang tinggi dan leptin yang terlalu rendah terbukti dapat mengakibatkan nafsu makan yang lebih besar.

Peneliti menyimpulkan bahwa kampanye kesehatan masyarakat yang bertujuan untuk mendidik keluarga tentang manfaat tidur lebih lama dan lebih teratur, dapat menyebabkan obesitas dan tren disfungsi metabolisme untuk anak-anak menurun.



detik

Thursday, January 13, 2011

Waspadalah.....Amankah Bayi Menelan Air Saat Mandi?


Jakarta, Saat memandikan bayi, tanpa sengaja kadang bayi menelan air mandinya sendiri. Umumnya terjadi saat orangtua lengah atau masih belajar memandikan bayinya. Bahayakah air yang tertelan bayi saat mandi?

"Banyak orangtua yang mengatakan bayinya tertarik minum air mandinya, tapi orangtua tidak perlu terlalu khawatir mengenai hal itu," ujar dokter anak Tanya Remer Altmann, yang juga editor dari buku The Wonder Years: Helping Your Baby and Young Child Successfully Negotiate the Major Developmental Milestones, seperti dikutip dari Babycenter.

Altman menuturkan bahwa ia belum pernah melihat ada seorang anak yang sakit karena minum atau tertelan air mandinya. Meski begitu, Altmann menyarankan untuk tidak membiasakan hal tersebut dan berusaha mencegah agar bayi tidak menelan air mandinya sendiri.

Jika bayi tertelan atau minum air mandi yang mengandung sabun dalam jumlah banyak memang bisa menyebabkan sakit perut atau juga muntah. Tapi kondisi ini sangat jarang terjadi. Karena bahan yang terkandung di dalam produk bayi umumnya tidak berbahaya.

Jumlah sabun yang terkandung di dalam air mandi tersebut tidaklah banyak atau sudah diencerkan di dalam bak mandinya. Dan kebanyakan bayi atau anak akan meludahkan atau berusaha mengeluarkannya jika air tersebut memiliki rasa yang tidak enak atau tidak menyenangkan. Karena itu air mandi tidak menimbulkan ancaman.

Hal penting yang harus dilakukan orangtua adalah memiliki bak khusus atau tersendiri untuk memandikan bayi, sehingga tidak tercemar dengan bahan-bahan kimia lain seperti deterjen atau pemutih. Selain itu bilaslah bak mandi dengan baik setelah digunakan.

"Jumlah bahan kimia yang digunakan untuk membersihkan bak mandi biasanya kurang kuat dibandingkan dengan bahan kimia yang ada di dalam air kolam renang, karenanya jika anak tertelan air kolam renang mungkin akan menyebabkan kerugian atau lebih berbahaya," ujar Altmann.

Untuk mencegah bayi agar tidak tertelan air mandinya adalah dengan memposisikan kepala bayi sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan badannya, serta memberikan bayi mainan untuk mengalihkan perhatiannya dari air mandi.


detik

Friday, January 7, 2011

Waspadalah.....Yang Harus Dihindari Saat Menyusui


Jakarta, Ibu yang sedang menyusui harus memperhatikan pola makannya karena makanan yang dikonsumsi akan mempengaruhi air susu ibu. Makanan apa saja yang harus dihindari saat menyusui?

Seringkali dijumpai ibu yang menyusui mengonsumsi makanan apapun yang disukainya seperti makanan beraroma kuat. Padahal makanan yang masuk ke dalam tubuh bisa mempengaruhi rasa air susunya (ASI).

Seperti dikutip dari Babycenter, Rabu (5/1/2011) terkadang bayi suka merasa rewel jika air susunya mengandung gas atau berbeda rasanya akibat makanan-makanan tertentu.

Maka itu sebaiknya ibu hamil menghindari beberapa makanan seperti:
  1. Cokelat
  2. Rempah-rempah seperti kayu manis, bawang putih, cabai atau bumbu kari
  3. Jeruk lemon atau limau
  4. Sayuran yang mengandung gas sepert kubis (kol), brokoli, kembang kol, ketimun dan paprika
  5. Buah-buahan yang memiliki efek pencahar


Namun untuk minuman kopi atau teh sebaiknya tidak dikonsumsi secara berlebihan, karena kafein yang masuk ke dalam tubuh akan mempengaruhi ASI yang membuat bayi sulit tidur dan menjadi lebih rewel.

Jika ingin minum kopi, teh atau minuman soda lain sebaiknya beri jarak waktu setidaknya dua jam sebelum melanjutkan untuk menyusui kembali serta tidak lebih dari dua cangkir per harinya.

Selain itu jika bayi menunjukkan adanya perubahan pola menyusui seperti tidak mau menyusu atau hanya sedikit saja, cobalah untuk memperhatikan makanan apa yang sebelumnya dikonsumsi serta menghindarinya selama beberapa hari.



Bayi yang menunjukkan alergi umumnya memiliki tanda seperti kulit merah, rewel atau diare ada kemungkinan disebabkan oleh makanan yang dikonsumsi dan masuk ke dalam ASI. Jika berasal dari makanan, biasanya disebabkan oleh sesuatu yang dikonsumsi 2-6 jam sebelum menyusui dan diperlukan waktu untuk mengetahui penyebabnya.

Untuk itu perhatikan asupan makanan dan minuman yang dikonsumsi selama ibu menyusui, terutama jika bayi mendapatkan ASI eksklusif selama 6 bulan pertama. Selain itu tak ada salahnya untuk berkonsultasi dengan dokter mengenai asupan gizi sehingga asupan nutrisinya tetap seimbang.


detik

Thursday, January 6, 2011

Waspadalah.....Si Kecil Korban Hipertensi!


Jakarta - Sebagai orang tua tentu harus mewaspadai hipertensi pada anak sesegera mungkin. Hipertensi pada anak akan menyebabkan kerusakan pada jantung, otak, ginjal.

Penelitian menunjukkan bahwa hipertensi pada anak 80% merupakan hipertensi yang terjadi akibat penyakit lain yang mendasarinya. Diperkirakan 2/3 anak kelak akan menderita penyakit kerusakan ginjal, jika tidak ditangani dengan cepat.

Seperti dikutip dari inspiredkidz, David Kaelber, ahli penyakit dalam dan dokter anak rumah sakir di Boston, Amerika Serikat, menemukan sejumlah anak-anak menderita tekanan darah tinggi berusia dini berkisar 2-5% dari total penderita hipertensi dan mulai menyerang anak pada usia tiga tahun.

Sementara itu, Dr Michael Wasserman, dokter anak pada OchnerClinic di Metairie, Lousiana, menegaskan perlunya langkah pencegahan dan pengobatan, sebelum problemnya menjadi lebih parah. Selain itu, ia meminta para dokter lebih cermat saat mendeteksi serangan hipertensi pada anak.

Hipertensi mengandung risiko seperti lahir dengan berat badan rendah, namun setelah lahir si anak berpotensi mengalami obesitas.

Dokter spesialis penyakit dalam, Dr Sandy Ruslan SpPD mengatakan gejala umum hipertensi yang timbul pada anak biasanya sakit kepala, pusing, penglihatan kabur, nyeri perut, muntah, nafsu makan berkurang dan berat badan turun.

Sandy menambahkan, hipertensi dapat diturunkan dari orang tuanya. "Bagi anak yang orangtuanya memiliki riwayat hipertensi tentunya harus lebih waspada dan sejak dini memeriksakan anak mereka."

Penyakit hipertensi pada anak, menurut Sandy, kategori utamanya adalah penyakit ginjal. "Hampir 80% penyebab hipertensi pada anak berasal dari penyakit ginjal. Biasanya timbul dalam bentuk akut,” ungkap Sandy.

Faktor resiko yang dapat menyebabkan anak menderita hipertensi:
- Faktor keturunan, dalam riwayat keluarga ada yang terkena hipertensi.
- Anak lahir dengan berat badan rendah, tetapi kemudian mengalami obesitas.
- Saat melahirkan mengalami masalah sehingga harus lebih lama tinggal di rumah sakit.
- Menderita penyakit jantung bawaan.

Tips menurunkan faktor risiko anak menderita hipertensi:
- Berikan air susu ibu pada si kecil agar semua risiko hipertensi langsung merosot.
- Ubah pola makan anak, jika ia menderita kegemukan atau hasil diagnosanya memang mengalami tekanan darah tinggi.
- Lakukan program penurunan berat badan si kecil bila ia telah mengalami obesitas

Inilah.com

Tuesday, December 21, 2010

Waspadalah....Anak Ngompol Karena Kebanyakan Kafein Lebih Mengkhawatirkan


Lincoln, Dampak paling menakutkan dari konsumsi kafein yang berlebih umumnya adalah gangguan tidur dan gangguan ritme jantung. Namun pada anak, ngompol dinilai sebagai dampak yang lebih mengkhawatirkan hingga menarik perhatian sejumlah peneliti di Nebraska, AS.

Konsumsi kafein di kalangan anak kecil belakangan ini memang cukup memprihatinkan. Hasil penelitian para ahli di University of Nebraska Medical Center mengungkap 75 persen anak berusia 5-12 tahun sudah rutin mengkonsumsi kafein setiap hari.

Sebagian besar memang bukan dari kopi seperti halnya pada orang dewasa, melainkan dari minuman ringan bersoda yang memang banyak mengandung kafein. Kandungan kafeinnya bahkan bisa lebih tinggi, sebab sebagian anak mengonsumsi soda hingga 4 kaleng soda setiap harinya.

Dampak utamanya seperti yang terungkap dalam penelitian tersebut adalah anak-anak jadi susah tidur terutama pada malam hari. Dalam jangka panjang, kondisi ini bisa mempengaruhi prestasi belajar karena sering mengantuk di kelas dan bahkan bisa mengganggu metabolisme tubuh secara keseluruhan.

Seperti halnya pada orang dewasa, kafein juga bisa mengganggu ritme jantung. Karena punya sifat sebagai pencahar atau peluruh air kencing, kafein juga dapat meningkatkan maupun menurunkan tekanan darah tergantung faktor lain yang mempengaruhinya.

Namun rupanya bukan itu yang menarik perhatian para peneliti. Prof William Warzak yang memimpin penelitian itu mengaku lebih tertarik dengan dampak kafein terhadap frekuensi mengompol pada anak, yang cenderung meningkat akibat terlalu banyak konsumsi kafein.

Untuk mengungkap seberapa besar dampak mengompol bagi kesehatan anak yang terlalu banyak mengonsumsi kafein, Prof Warzak bahkan tengah menyiapkan rancangan penelitian lebih lanjut. Dampak tersebut memang belum banyak diungkap dalam penelitian terdahulunya.

Namun yang jelas, ia mengimbau orang tua untuk tidak menganggap remeh jika anaknya menjadi sering mengompol akibat terlalu banyak minum soda atau sejenisnya yang mengandung kafein. Diduga dengan makin sering mengompol, anak punya risiko lebih besar untuk kehilangan banyak cairan tubuh.

"Konsumsi kafein pada anak seharusnya dibatasi karena belum diketahui pasti seberapa buruk dampak negatifnya. Tidak memberinya minuman yang mengandung kafein malah akan lebih baik," ungkapnya seperti dikutip dari CBS News.

detik
Militerania | Interesting

Monday, December 6, 2010

Waspadalah...Jangan Membangunkan Bayi yang Sedang Tidur


Jangan membangunkan bayi yang sedang tidur! Bisa jadi kalimat ini sering kita dengar. Tetapi apa yang menjadi alasannya? Ternyata larangan membangunkan bayi yang sedang tidur bukan hanya sekedar mitos yang beredar di kalangan orangtua.

Sedikit tips merawat bayi berikut setidaknya dapat menjawab hal itu.
Bayi memiliki siklus tidur yang lebih panjang dibanding anak pada usia di atas 5 tahun. Bahkan seringkali siklus tidur bayi tidak memiliki waktu yang teratur sebagaimana siklus tidur orang dewasa.

Pada bayi, tidur tidak hanya sekedar beristirahat. Tetapi tidur memiliki peran ganda bagi bayi, yaitu membantu mengoptimalkan pertumbuhan tubuh bayi dan membantu meningkatkan kecerdasan bayi.
Pada saat bayi tidur, proses metabolisme yang merupakan proses tubuh mengolah makanan menjadi energi, mengalami peningkatan. Dan ini berhubungan erat dengan bertambahnya berat badan, tinggi badan serta kesehatan tubuh bayi.

Manfaat tidur bayi yang kedua adalah membantu meningkatkan kecerdasan bayi. Pada saat tidur, aliran darah ke sel otak bayi mengalami peningkatan, sehingga sel-sel otak pun akan tumbuh dengan cepat. Maka tidak mengherankan jika kualitas tidur bayi terkait erat dengan tingkat kecerdasan bayi.

Mengingat pentingnya tidur bagi bayi, maka sebaiknya tidak membangunkan bayi yang sedang tidur.
Sebagian orangtua mungkin merasa sedikit khawatir bayi akan kehausan atau kelaparan ketika melihat bayinya tertidur dengan waktu yang lama, sehingga orangtua membangunkan bayi untuk sekedar minum susu. Faktanya, bayi akan terbangun dengan sendirinya jika ia merasa lapar, haus atau ingin buang air.

Justru jika orangtua memaksa bayi untuk bangun dari tidurnya, ini bisa membuat bayi menjadi terganggu dan rewel.
Bahkan bisa jadi bayi enggan minum susu karena ia masih ingin tidur. Jika berlangsung berulang-ulang, ini bisa mempengaruhi tumbuh kembang si kecil. Jadi orangtua tak perlu risau jika bayi tidur dalam waktu yang lama, karena bayi membutuhkan tidur yang berkualitas.

Kebiasaan ini akan berubah dengan sendirinya seiring bertambahnya usia bayi.
Tetapi ada pengecualian untuk bayi dengan bilirubin tinggi atau lebih dikenal dengan bayi kuning, yang biasanya tidur dalam waktu yang lebih lama dibanding bayi normal.

Mereka tidur cukup lama sementara air susu ibu harus sesering mungkin diberikan pada bayi untuk meningkatkan daya tahan tubuhnya. Untuk kasus seperti ini, sebaiknya orangtua merawat bayi dengan pengawasan dokter anak.

Di atas itu semua, kenyamanan tidur bayi adalah yang terpenting agar perkembangan fisik dan otak bayi berjalan optimal.

gugling

Friday, December 3, 2010

Waspadalah... Latih Disiplin Anak Tanpa Memukul


Setiap keluarga mempunyai cara sendiri-sendiri untuk menanamkan disiplin pada anak. Walau berbeda, sebenarnya tujuannya sama, yaitu menangani anak bandel atau yang bertingkah nakal.

Ketika Anda melihat si kecil berbuat kenakalan, entah itu di rumah, saat jalan-jalan di mal, atau ketika berkunjung rumah tetangga, mungkin secara refleks Anda akan berteriak, “Berhenti!”  Atau, bisa jadi Anda akan memukul si kecil agar tidak melanjutkan perbuatannya.

Tahukah Anda, menurut pakar psikologi anak, menangani anak nakal dengan cara berteriak atau memukul dapat menimbulkan efek negatif pada emosi si kecil. Agar disiplin bisa dilatih sejak dini, kenali cara lain yang lebih efektif untuk buah hati Anda, seperti dikutip dari laman Modern Mom.

Beda usia, beda caraPertimbangkan usia anak Anda. Cara menanamkan disiplin pada anak tidak sama di tiap usia. Beda usia, beda cara. Misalnya, untuk anak berusia 15 bulan, Anda bisa menggunakan cara pengalihan perhatian untuk membuatnya disiplin. Berbeda dari anak usia yang lebih muda atau lebih tua dari itu, Anda mengabaikan mereka jika merengek-rengek atau bertindak tidak tepat, untuk mendapatkan perhatian Anda.


Beri contohContohkan perilaku yang baik agar si kecil menirunya. Menurut penelitian, teknik itu selalu direspon baik oleh anak-anak. Sebab, memberi si kecil contoh dari apa yang harus dilakukan, bukan apa yang tidak boleh dilakukan. 


Anak-anak lebih mudah meniru perilaku orang dewasa. Mereka lebih mudah menerima pendekatan itu dari pada diberi tahu apa yang tidak boleh mereka lakukan.

Berpegang pada aturanTetaplah berpegang pada aturan yang Anda tetapkan untuk buah hati. Setelah memberitahu harapan Anda pada si kecil, hal ini akan memperkuat perilaku yang ingin Anda lihat dari si kecil.


Beri penghargaanAnda harus ingat untuk selalu menghargai anak Anda setiap kali dia menunjukkan perilaku baik. Lontarkan pujian kepada si kecil tidak hanya lewat kata-kata, tapi juga menawarkan hadiah favoritnya. Si kecil tentu akan merasa Anda benar-benar bangga pada dirinya sendiri.



Ungkapkan ketidaksetujuan AndaSelalu ungkapkan pendapat Anda jika Anda merasa tingkahnya tidak tepat. Jelaskan kepadanya tentang perilaku yang tidak baik itu. Mengekspresikan pendapat Anda merupakan pendidikan keluarga yang bagus. Ini akan efektif mengubah perilaku si kecil.


KonsekuensiJika anak tidak disiplin atau melakukan kesalahan untuk pertama kalinya, segera ungkapkan kalau ia bersalah. Hal itu untuk menghindari ia melakukan kesalahan untuk kedua kalinya. Katakan juga padanya setiap kesalahan memiliki konsekuensi, salah satunya adalah hukuman. Hukuman bisa berupa tidak mengizinkannya menonton televisi beberapa hari atau memotong uang jajannya sementara waktu.


Jangan berikan hukuman fisik seperti memukul, hal itu hanya akan menimbulkan trauma dan bisa meregangkan hubungan Anda dengannya. Memberikan hukuman atau konsekuensi atas kesalahan anak juga melatih perkembangan psikologisnya. Mereka jadi lebih peka dan berpikir panjang sebelum melakukan sesuatu kesalahan. (pet)

• VIVAnews 



Belajar Al-Qur'an Online

Murottal Al-Qur'an

Listen to Quran